Kesehatan

Jumat, 17 Januari 2020 - 10:57 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Setiap 40 Detik Satu Orang Bunuh Diri Akibat Depresi, Tertinggi Kasusnya di Korea Selatan

AFNEWS.CO.ID – Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyebutkan bahwa setiap 40 detik terdapat satu orang bunuh diri di seluruh dunia. Menurut Organisasi tersebut, bunuh diri sudah menjadi fenomena global.

Berdasarkan data Organisation for Economic Co-operation and Development, Korea Selatan merupakan negara dengan jumlah kasus bunuh diri tertinggi di dunia.

Indonesia sendiri berada di urutan 159. Artinya, kasus bunuh diri di Indonesia cukup rendah. Depresi bisa menjadi pemicu tindakan bunuh diri. Menurut dr Ayu Agung Kusumawardhani SpKJ (K), dokter spesialis kesehatan jiwa dari RSCM, depresi adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami penurunan mood atau alam perasaan.

Penurunan mood yang dialami penderita depresi sangat bermakna hingga menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan dalam beraktivitas.

“Gejala klinisnya tidak hanya penurunan mood , tetapi juga diikuti penurunan kemampuan berpikir. Proses pikirnya melambat, tidak bisa berkonsentrasi, pesimis, semua situasi di pandang dari sudut negatif,” ujar dr Agung.

Penyebab depresi bisa karena faktor biologis, faktor eksternal, atau keduanya. Faktor biologis berarti ada masalah dalam regulasi neurohormon berupa ketidakseimbangan hormon serotonin di otak. Sementara itu, faktor eksternal disebabkan lingkungan atau situasi luar yang menyebabkan seseorang merasa putus asa.

“Namun, kalaupun faktor eksternal menjadi penyebab utama depresi berat, itu biasanya memang sudah ada faktor biologisnya,” kata dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) ini.

Pikiran bunuh diri dan menyakiti diri sendiri merupakan komplikasi depresi berat yang perlu diwaspadai. Pada umumnya, pikiran bunuh diri muncul ketika penderita depresi sudah putus asa dan berpikir mengakhiri hidup merupakan solusi tepat.

“Ini harus selalu kita deteksi pada pasien. Begitu dia ada ide atau pikiran untuk mati saja, ini sudah kita kategorikan sebagai depresi berat,” ucap dr Agung.(Red AF)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 132 kali

Baca Lainnya