Pendidikan

Minggu, 4 Agustus 2019 - 15:39 WIB

1 bulan yang lalu

logo

KONSTITUSI ATAU REKONSILIASI (Resolusi Problematika Internal HMI Cabang Langsa)

AFNEWS.CO.ID Setiap peristiwa konflik, secara ontologis selalu ada akar historinya. Peristiwa historis itu, yang kemudian melahirkan peristiwa lainnya. Sejatinya, hal ini mudah dikenali dan dieksplorasi. Problemnya atau isu pentingnya, apakah pada mekanisme dan penerapan konstitusi yang belum utuh, atau perdebatan visi yang belum selesai. Karenanya, peristiwa konflik ini mesti diselesaikan.

Resolusi konflik, bisa ditempuh minimal dalam dua solusi, yakni; pendekatan konstitusi dan rekonsiliasi. Tentu saja, dalam penerapan resolusi ini butuh pihak ketiga yang berada diluar konflik, sebagai “stake holder”, atau “wiseman”. Bisa saja, institusi atau personal yang dianggap bebas dari konflik. Karena, konflik sering kali berkaitan dengan truth (kepercayaan).

Jika model konstitusi, maka biarkan konstitusi bicara, dan kepentingan pribadi dan kelompok harus ditanggalkan. Hanya konstitusi sebagai “supreme”. Selain itu, setiap pihak harus mempunyai sikap tractable (patuh). Negoisasi tidak berlaku dalam pendekatan konstitusi, “suka tidak suka”, sikap tractable yang utama.

Kemudian, apabila memilih jalan damai, dengan model rekonsiliasi. Maka “islah, negoisasi, dan kompromi’ suatu keniscayaan. Lazimnya, rekonsiliasi— penyelesaiannya diluar konstitusi. Selanjutnya, out rekonsiliasi dilegalkan secara konstitusi.

Problematika di HMI Cabang Langsa mesti diselesaikan, dan harus ada solusinya. Kita tidak ingin problematika itu membesar dan terus membesar. Sebab, konflik tidak akan menghasilkan nilai positif. Meski, ada yang meyakini, bahwa kontestasi atau pertentangan akan melahirkan “dunia baru”. Tetapi lupakan teori itu, dan mulailah merajut kembali bendera “hijau, hitam, dan putih” yang terkoyak di Langit Langsa.

Dualisme kepemimpinan, yang sebelumnya muncul, dan yang satu menemukan legalitas. Selanjutnya, diantara dua kekuatan ini, lahir “kekuatan ketiga”. Kekuatan ketiga ini sedang mencari legalitas konstitusi. Apabila, kita emosional menyikapinya, maka akan terlihat problematika itu sebagian (partial), tetapi manakala problematika ini dilihat secara holistik, maka akar persoalan terlihat terang.

Sebagai insan, yang menamakan dirinya insan akademis, maka sepatutnya peristiwa kepemimpinan itu harus dilihat utuh, tanpa sekat- sekat kepentingan tertentu. Walaupun, ada kepentingan, maka kepentingan HMI yang lebih utama.

Pada penghujung tulisan ini, saya ingin tegaskan kembali bahwa “kesatuan lebih baik dari perpecahan” (unity is better than devision). Selain itu, “jembatan lebih baik dari dinding” (bridge is better than wall). Kemudian, “pemberdayaan lebih baik dari kebencian” (empowerment is better than resentment). Semangat ini, diharapkan kesatuan HMI dapat terpelihara dan mutual respect terus tercipta.

Penulis : Emi (Kader HMI ’98)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 190 kali

Baca Lainnya