EKBIS

Kamis, 26 April 2018 - 03:43 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Tragedi Sumur Minyak Ranto Peureulak: Setelah Banyak Korban, Pemerintah Aceh Timur “Buang Badan”

AFNEWS.CO.ID – Setelah jatuh banyak korban jiwa dalam tragedi terbakarnya Sumur minyak di Kecamatan Ranto Peureulak pada Rabu, (25/4), Pemerintah Aceh Timur baru menyatakan kalau kegiatan eksploitasi minyak oleh masyarakat tersebut adalah ilegal.

“Lalu selama ini siapa yang mengizinkan dan/atau membiarkan masyarakat melakukan pengeboran minyak secara ilegal. Terus terang kami sangat kecewa, seolah-olah Pemerintah Aceh Timur “buang badan” atas insiden terbakarnya sumur minyak Ranto Peureulak,” demikian dikatakan Direktur Eksekutif Aceh Legal Consult (ALC) Muslim A Gani, Rabu (25/4).

Dikatakan Putra Ranto Peureulak ini, dirinya sangat menyesalkan sikap Pemerintah Aceh Timur yang menyatakan perlu dilakukan tindakan hukum atas eksploitasi sumur minyak secara ilegal oleh masyarakat. Ini seakan-akan Pemerintah Aceh Timur baru mengetahui kegiatan eksploitasi sumur minyak oleh masyarakat, saat telah jatuh korban puluhan warga yang tewas.

Padahal, jauh hari sebelumnya kegiatan ilegal sekelompok masyarakat itu, telah dilegalkan dan akan ditampung dalam satu wadah koperasi oleh Pemerintah Aceh Timur.

“Menurut data yang ada pada kami peristiwa ini tidak bisa lepas dari tanggung jawab Pemerintah Aceh Timur. Tidak boleh tidak, mereka (Pemkab Aceh Timur-red) harus bertanggung jawab,” ungkap Muslim A Gani.

Sebelumnya, Bupati Aceh Timur H Hasballah Bin HM Thaib yang akrab disapa Rocky  pada 28 November 2017 lalu saat meresmikan operasi Block Peureulak (Perusahaan Daerah Kabupaten Aceh Timur) KSO PT. Pertamina EP dan PT Timur Kawai Energi, dalam sambutannya yang direkam Media, telah mengaku Bahwa Pemerintah Aceh Timur saat ini akan terus berupaya untuk menumbuhkan badan hukum usaha, berbentuk koperasi kepada masyarakat dalam mengelola sektor Migas di daerah Kecamatan Ranto Peureulak.

Kedepan, hasil pengeboran masyarakat akan ditampung dan akan dikelola sesuai dengan standarisasi Migas.

Bahkan, untuk memastikan masyarakat sekitar terlibat langsung dalam pemanfaatan sumber daya alam ini, Bupati Hasballah M Thaib menyebutkan, pihaknya sedang membentuk Koperasi Masyarakat yang akan diikutsertakan dalam pengelolaan migas di daerah tersebut.

Pembentukan koperasi yang dapat melakukan pengeboran sendiri ini, menurut Bupati, guna meningkatkan kesejahteraan rakyat serta terbukanya lapangan kerja masyarakat selebar-lebarnya bagi rakyat Aceh Timur.

Sementara itu, menyangkut insiden terbakarnya sumur minyak Ranto Peureulak, Humas PT. Aceh Kawai Energi yang merupakan mitra perseroan Pertamina, Roberth MV Dumatubun mengatakan, lokasi kebakaran sumur minyak di Aceh Timur itu berdekatan dengan wilayah Operasi Pertamina lewat kerja sama dengan PT Aceh Kawai Energi. Sumur yang terbakar itu pun bukan milik Pertamina EP maupun Aceh Kawai Energi.

“Jadi, itu memang berada di wilayah kerja kami [Pertamina – Aceh Kawai Energi], tetapi bukan daerah operasi,” ujarnya pada Rabu (25/04).

Robert menjelaskan, intinya sumur yang terbakar itu adalah aktivitas pengeboran ilegal yang tidak sesuai dengan standar yang berlaku.

Dia menjelaskan, di wilayah Kecamatan Rantau, Aceh Timur itu memang banyak praktik pengeboran ilegal, pengeboran ilegal ini tidak bisa diantisipasi hanya dari satu pihak saja, tetapi butuh kerja sama semua pihak dari Pemda, Kepolisian, Pertamina, maupun mitra kerja sama perseroan.

“Walaupun, itu kegiatan ilegal, Pertamina bersama Aceh Kawai Energi tidak tinggal diam,”

Ditegaskan Robert, berhubung kebakaran ini disebabkan oleh aktivitas ilegal. Hal itu membuat pihak Pertamina maupun Aceh Kawai Energi tidak ada kewajiban bertanggung jawab terkait kejadian tersebut. (ZAL)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 400 kali

Baca Lainnya