Pendidikan

Senin, 16 April 2018 - 12:40 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Dulu.., Dayah di Aceh Banyak Melahirkan Pejabat Kerajaan

Dr Amiruddin Yahya Azzawy MA

AFNEWS.CO.ID – Dayah dan Madrasah (Meunasah) di Aceh sangat berperan penting dalam Islamisasi serta menjadi pusat Pengembangan Ilmu Keislaman dan Ilmu Pengetahuan Umum.
Tempo dulu, dari Dayah telah banyak melahirkan ulama, bahkan tidak sedikit diantaranya menjadi penjabat kerajaan. Hal ini dikatakan Ketua Yayasan Dayah Bustanul Umum Langsa, Dr Amiruddin Yahya Azzawy MA, (15/4), usai mengikuti acara Haflah Takhrij (wisuda) santri Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Yayasan dayah Bustanul Ulum Langsa.

Menurutnya, Dayah pertama di Aceh berbentuk Perguruan Tinggi adalah Dayah Cot Kala (Zawiyah Cot Kala). Dalam dialek Aceh, Zawiyah disebut Dayah, sama seperti Madrasah disebut Meunasah.

Ketika itu semua pejabat Kerajaan di Aceh, seperti kerajaan Perlak, Pasai dan Kerajaan Aceh, mereka semua adalah alumni Dayah sekaligus Madrasah (Meunasah). Sebab, di Aceh waktu itu tidak ada lain Lembaga Pendidikan kecuali Dayah dan Meunasah. Jadi, lembaga ini lah yang menjadi pusat peradaban Aceh.

Dr Amiruddin Yahya mencontohkan, Teungku Muhammad Amin, salah seorang Sultan Pereulak adalah pendiri Dayah Cot Kala bahkan dia sebagai Teungku Chik (abu chik) Cot Kala. Selanjutnya, Malik As Salih, yakni Sultan Kerajaan Pasai belajar di Dayah, dan Meurah Johan yang merupakan Sultan Kerajaan Aceh yang pertama juga alumni Dayah termasuk Sultan Iskandar Muda yang juga alumni Dayah.

Waktu itu, kata Dr Amiruddin, para Sultan Kerajaan di Aceh, mereka berperan ganda baik sebagai Umara maupun sebagai Ulama. Mereka (para Sultan di Aceh) mendapatkan ilmu di Dayah yang terintegrasi ilmunya, tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Di Dayah, kurikulumnya berasal dari berbagai ilmu pengetahuan. Aceh tidak mungkin maju jika tidak ada dayah, karena lembaga ini yang ada di Aceh saat itu selain Meunasah dan Rangkang.

Belakangan, lanjut Amiruddin Yahya, setelah Aceh di kuasai Belanda, Dayah di obrak abrik termasuk ulamanya. Dan Belanda tidak mengizinkan di dayah diajarkan ilmu umum, apalagi ilmu politik dan Tata Negara. Setelah itu, Dayah hanya fokus pada ilmu agama islam saja. Itupun dibawah pengawasan Belanda.

Dayah melahirkan banyak ulama, oleh karena ulama menjadi pilar bangsa. Ulama berfungsi sebagai pendidik sekaligus pemimpin dan penyaring budaya. Karena itu, ulama harus didengarkan dan dilibatkan dalam semua pengambilan keputusan di Aceh, apalagi berkaitan dengan pelaksaan syariat islam. Ulama lebih tahu tentang Islam dan bagaimana cara melaksanakannya.

“Untuk itu, saya mengucapkan selamat kepada alumni MUQ sebagai alumni dayah sekaligus madrasah. Teruslah berkarya dan tingkatkan pengetahuan. Sebab, bangsa ini butuh orang – orang cerdas dari Dayah, berkarakter baik sebagai penerus estafet bangsa,” demikian Dr Amiruddin Yahya Azzawy MA. (ZAL)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 298 kali

Baca Lainnya