POLITIK

Senin, 9 April 2018 - 15:27 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Caleg 2019 “Dihantui” Persaingan Internal Partai

AFNEWS.CO.ID – Menjelang Pemilihan Legislatif (Pileg) di Indonesia yang akan berlangsung pada 19 April 2019 (Hari Pencoblosan), Partai Politik peserta Pemilu sejak dini berupaya menjaring kader untuk diusung sebagai Calon Anggota Legislatif di setiap Daerah dalam wilayah Indonesia. Khusus di Aceh terutama di Kota Langsa, momen penjaringan Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) yang dilakukan Partai Politik menjadi fenomena menarik untuk diteliti sekaligus di kritisi.

Pasalnya, persaingan Bakal Caleg ditingkat Internal Partai menjadi sesuatu yang “menakutkan” bagi sebagian kader Partai yang akan mencalonkan diri sebagai anggota Legislatif pada Pemilu 2019.

Misalnya, seorang kader Partai Politik tertentu yang mendaftar sebagai Bakal Caleg di Daerah Pemilihan (Dapil) A, yang pertama-tama jadi bahan pertimbangan Bakal Caleg tersebut untuk maju adalah melihat daftar nama Bakal Caleg lain yang menjadi pesaingnya di internal Partai. Jika dalam susunan Bakal Caleg di Dapil yang sama memiliki kader lain yang lebih berpotensi untuk terpilih sebagai anggota legislatif, maka Bakal Caleg dimaksud langsung “balik kanan” dan lebih memilih meninggalkan Partainya untuk kemudian mencari Partai Politik lain yang tingkat persaingan di internal Partai lebih menjanjikan.

Fenomena seperti ini sudah mulai membudaya dan tak heran jika banyak Partai Politik Peserta Pemilu di Aceh mengalami sedikit kesulitan dalam menyusun daftar Bakal Caleg.

“Kader Partai sekarang beda dengan kader Partai dulu. Sekarang kader Partai lebih memikirkan diri sendiri dari pada Partainya. Contohnya saat Pemilu, “kader yang dirinya maju menjadi Bakal Calon Legislatif sulit untuk menerima Bakal Calon lain yang berpengaruh di masyarakat, apabila dicalonkan dari partai yang sama. Karena dikhawatirkan kader Partai tersebut kalah dalam perolehan suara . Kader Partai seperti ini kami beri nama Kader Karbitan“, ujar salah seorang mantan anggota Legislatif di Kota Langsa yang juga pernah menjabat sebagai Pengurus teras salah satu Partai Politik terbesar di Negeri ini.

Padahal, menurutnya konsep Partai Politik dalam menghadapi Pemilu adalah bagaimana memperoleh suara sebanyak banyaknya untuk Partai. “Siapapun yang terpilih“, itu keuntungan bagi Partai Politik bersangkutan. Jika Partai Politik masih memelihara kader karbitan serta sulit menerima tokoh masyarakat lain yang lebih berpengaruh dan punya basis massa, maka Partai Politik itu dipastikan tidak pernah menjadi mayoritas di Parlemen.

“Yang lebih mengherankan, Pimpinan Partai Politik zaman sekarang lebih mengutamakan kader yang punya kekuatan finansial tapi minim Sumber Daya Manusia (SDM) dan tak punya basis massa, untuk diprioritaskan dalam bursa Bakal Caleg Partai yang dipimpin nya”.

Dalam hal ini khusus untuk Aceh, Partai Politik lokal lebih cerdas dalam membesarkan Partai dibandingkan Partai Politik Nasional, termasuk dalam menempatkan kader sebagai Bacaleg. Partai lokal terus mencari tokoh-tokoh baru dikalangan berpengaruh dan tidak semata-mata menilai kriteria Bacaleg dari kekuatan finansial saja.
Hal ini menandakan Partai Politik Lokal selangkah lebih maju. Padahal konsep yang digunakan Partai Politik Lokal sekarang adalah hasil dari pelajaran yang didapat dari apa yang dilakukan oleh Partai Politik Nasional di masa lalu .

Sementara itu, kembali ke Bakal Caleg yang merasa takut “Dihantui” oleh persaingan internal Partai Politik, Bakal Caleg tersebut cenderung mencari Partai lain sebagai kendaraannya.

“Asalkan persaingan di Internal Partai tidak mengkhawatirkan, maka Partai Politik mana saja boleh lah untuk dijadikan kendaraan menuju Legislatif,” Mungkin demikian pemikiran yang ada di benak beberapa kader Partai tertentu yang punya ambisi besar untuk merebut kursi Parlemen.

Namun perlu menjadi catatan bagi Kader Partai Politik, bahwa saat ini metode perhitungan suara sangat berbeda dengan Pemilu Legislatif (Pileg) tahun 2014, dimana pada tahun 2014 memakai metode Bilangan Pembagi pemilih (BPP). Sedangkan sistem penghitungan pada Pemilu Legislatif tahun 2019 ini, menggunakan sistem Sainte Lague Murni. Artinya ini Lebih menguntungkan Partai Politik besar. Selanjutnya Caleg juga perlu hati-hati dan penuh perhitungan dalam memilih Partai Politik untuk mencalonkan diri. Karena berdasarkan Pasal 414 UU No 7 Tahun 2017, Partai Politik yang tidak memenuhi Parlementer Threshold (PT) sebesar 4 persen, maka Caleg Partai Politik bersangkutan mulai dari tingkatan Caleg DPR RI, DPR Aceh hingga Caleg DPR Kabupate/Kota, secara otomatis gugur dengan sendirinya. Meskipun calon anggota Legislatif dari Partai tersebut terpilih sebagai anggota Legislatif, namun mereka tidak berhak memperoleh kursi di Parlemen. (Teuku Syafrizal)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 724 kali

Baca Lainnya