ACEH

Kamis, 1 Februari 2018 - 10:46 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Warga Minta Proyek Embung Rp 4,53 Milyar Di Julok Aceh Timur Segera Dituntaskan

AFNEWS.CO.ID – Warga disekitar proyek pembangunan embung senilai Rp 4,53 Milyar di Dusun Paya Pua Kecamatan Julok Aceh Timur, meminta kontraktor pelaksana agar segera menuntaskan pekerjaan tersebut. Karena, pembangunan bendungan air itu merupakan tumpuan masyarakat sekitar guna mengairi sawah mereka.

Koordinator Masyarakat Sekitar Pembangunan Embung, Musnaini Husen, melalui pernyataan sikapnya yang diterima AFNEWS.CO.ID, Kamis (1/2), mengatakan Embung Payu Pua merupakan sebuah embung yang luasnya mencapai 24 hektar lebih, sehingga mampu menampung air begitu banyak. Embung Paya Pua juga pernah menjadi sumber air utama bagi petani di kecamatan Julok, Nurussalam, dan Darul Falah, yang dirasakan manfaatnya oleh 8 (delapan) Gampong. Diantaranya, Gampong Buket Seraja, Blang Pauh Sa, Ule Tanoh, Blang Uyok, Meunasah Teungoh, Meudang Ara, Peulawi, dan Gampong Tunong Bugeng, dengan total luas lahan sawah -/+ 150 hektar.

Namun sejak beberapa tahun belakang Embung Paya Pua, tidak dapat mengairi sawah lagi. Diakibatkan oleh pendangkalan, dan saat ini sedang dilakukan pengerjaan kembali Embung di Payapu di Gampong Buket Seraja, Kecamatan julok Aceh Timur, dengan Total Anggaran Rp. 4.519.078.000. Proyek tersebut dibiayai dengan Dana Otsus Kabupaten Aceh Timur Tahun 2017, yang dilaksanakan oleh PT. Indah Langsa Lestari, dan Perusahaan Perencananya CV. Arcende Consultan, kata Musnaini Husen.

Dikatakannya, dari papan Nama Proyek tersebut, tertulis masa pekerjaannya sejak 14 Agustus 2017 s/d 31 Desember 2017. Namun menurut amatan warga dilapangan, tampaknya Embung terlihat begitu dangkal sehingga dikhawatirkan tidak dapat menampung air. Disisi lain, tampak tanggul tidak memadai, bahkan aktifitas pengerjaan di lokasi Proyek masih berlangsung meskipun seharusnya pekerjaan atas proyek tersebut sudah selesai terhitung sejak tanggal 31 Desember 2017 lalu, ujarnya.

Atas dasar tersebut, lanjut Musnaini Husen, warga sangat berharap agar proyek pembangunan Embung Paya Pua untuk segera di tuntaskan, mengingat musim hujan akan segera berkahir.

“Kami berharap kapada pelaksana proyek, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Aceh Timur untuk dapat melaksanakan pekerjaan itu sesuai dengan ketentuan yang ada. Sehingga nantinya embung dapat berfungsi dengan baik, dan petani disekitar dapat merasakan manfaatnya. Selain itu, kami juga meminta kepada Muspida, Muspika, para stekholder dan masyarakat untuk dapat mengawasi pelaksana proyek ini,” demikian ungkap Musnaini Husein.
Sebagaimana diketahui, Proyek pembangunan Embung (Bendungan Air) senilai Rp 4,53 Milyar di Dusun Paya Pua Kecamatan Julok Aceh Timur, diduga merupakan pekerjaan yang dilaksanakan atas hasil kolusi antara Pejabat Pemkab Aceh Timur dengan kontraktor pelaksana.

Pasalnya, proyek yang bersumber dari dana Otsus tahun 2017 itu seharusnya sudah selesai dikerjakan pada Desember 2017 lalu. Tapi  hingga kini pembangunan embung tersebut masih sedang dikerjakan. Akibatnya, para petani dari beberapa Gampong yang menggantungkan harapannya akan kebutuhan air dari bendungan ini, menjadi sangat dirugikan.

Berdasarkan data yang diperoleh Wartawan, Pelelangan atas pekerjaan Pembangunan Embung senilai Rp 4,53 Milyar pada Satuan Kerja (Satker) Dinas PU Aceh Timur itu,  diikuti oleh 33 perusahaan jasa konstruksi. Dari 33 Perusahaan, sebanyak lima perusahaan masuk nominasi pemenang  yaitu PT Cipta Karsa Buana, CV Permata Izzaty, PT Eka Nadi Pratama, PT Langsa Indah Lestari, dan PT Alif Aulia Meubel. Selanjutnya dari lima perusahaan yang masuk nominasi, PT Langsa Indah Lestari keluar sebagai pemenang lelang dengan nilai penawarannya Rp 4.519.078.000.

Kemenangan PT Langsa Indah Lestari dalam pelelangan pekerjaan dimaksud, diduga merupakan hasil dari sebuah kolusi antara pejabat di Dinas PU Aceh Timur selaku Satker, dengan kontraktor pelaksana. Selain itu, tidak menutup kemungkinan  ada pejabat lain juga diduga ikut menikmati hasil kolusi atas pekerjaan itu. Meskipun dugaan ini belum bisa dibuktikan kebenarannya secara hukum, namun aparat penegak hukum terutama pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh diharapkan bisa lebih proaktif untuk menyelidiki dugaan ini. Sehingga, upaya pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme di Aceh khususnya di Aceh Timur bisa berjalan sebagaimana harapan rakyat.

Sementara itu, Kontraktor Pelaksana Pembangunan Embung Rp 4,53 Milyar dari PT Langsa Indah Lestari, Sulaiman alias Toke Leman kepada Wartawan, membantah dugaan kolusi atas proyek tersebut. Menurut Toke Leman, pihaknya telah mengikuti semua proses termasuk prosedur pelelangan. “Kita sudah mengikuti semua aturan yang ada terkait pelelangan pekerjaan ini. Jadi, tidak benar kalau di kait-kaitkan dengan dugaan kolusi,” ujarnya.

Soal belum selesainya pekerjaan, Toke Leman memang mengakui bahwa pekerjaan pembangunan embung Rp 4.53 Milyar ini belum selesai, meskipun kontraknya sudah mati pada tanggal 31 Desember 2017 lalu. Menurutnya hal ini disebabkan oleh berbagai persoalan teknis. “Ya kalau pekerjaan belum selesai memang benar dan kita sudah lakukan adendum termasuk menerima berbagai konsekwensi, seperti membayar denda sebagaimana yang telah di atur. Tapi tidak lama lagi pekerjaan ini akan kita selesai.” demikian Toke Leman. (ZAL)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 287 kali

Baca Lainnya